"Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul." Ayub 3:26
Tak mudah menjalani kehidupan di dalam dunia. Kadang siapa sangka hidup bisa menjadi berubah terbalik, apalagi dari posisi yang upgrade kepada posisi downgrade yang banyak orang tidak mengharapkannya. Dari sehat menjadi sakit. Dari kaya menjadi miskin. Dari populer menjadi tanpa tenar. Dunia memang menawarkan seribu satu macam yang menyenangkan namun jangan lupa bahwa di dalam dunia ini ada hal-hal yang bisa terjadi yang tanpa terduga dan diharapkan. Jalan hidup yang tadinya terang kini menjadi redup dan gelap. Tak hanya sengsara namun kadang air mata dan keinginan untuk tiada saja bisa saja menyapa dalam pengalaman yang rumit itu. Kemalangan hidup yang tak dirindukan menyapa dengan kejam. Dia kadang tak pandang bulu entah orang itu baik atau jahat. Orang itu sehat atau sakit. Kaya atau miskin. Saleh atau berdosa. Pertanyaannya bagaimana sikap kita menghadapi semua situasi yang ada? Kekayaan tidak menjamin seseorang dekat dengan Tuhan dan sebaliknya kemiskinan serta kehidupan hidup yang sulit pun tidak menjadi penyebab orang bersyukur pada-Nya. Namun yang menarik dari bacaan kita adalah Ayub adalah seorang manusia yang sama dengan kita, ia mengalami kehidupan yang tadi nyaman, sehat dan terbilang sukses untuk orang pada zamannya serta hidupnya benar adanya. Namun peristiwa kehilangan harta benda-kekayaan, anak-anaknya dan kesehatannya serta penolakan dukungan dari istrinya merupakan pukulan yang sangat serius bukan hanya menghantam tubuh fisiknya namun menghantam jiwanya. Tapi yang terjadi adalah Ayub tetap tegar dan kuat menghadapi semua badai kehidupan yang ada. Kekuatannya sungguh luar biasa, ia tidak pernah menyalahkan Tuhan, namun karena penderitaan yang dialami sungguh berat maka ia memohon jika dimungkinkan maka sebaiknya hidupnya berakhir saja. Beratnya badai yang menghantam membawa Ayub untuk berada dalam kondisi kegelapan yang tak mudah. Dan kerinduan untuk berada di dunia orang mati. Suasana yang berat diungkapkannya dalam kalimat yang kita baca "Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul." Namun yang menarik adalah apa yang dialami Ayub menyingkirkan pemahaman yang selama ini salah beredar dikalangan orang Kristen. Orang Kristen yang tidak serius belajar firman Tuhan selalu berkata, kalau kita terima Yesus, maka yang sakit menjadi sehat, yang miskin menjadi kaya, yang buta melihat dan yang dekat atau saleh tidak mungkin mengalami kemalangan serta penderitaan, namun apa yang dialami oleh Ayub adalah keadaan yang sebaliknya. Bagaimana kekristenan menjelaskan kondisi Ayub kepada dunia? Ini menjadi pertanyaan yang sangat serius. Ketika seseorang percaya Yesus kemudian yang mikin tidak menjadi kaya, yang sakit tidak menjadi sembuh dan yang saleh tidak menjadi tanpa masalah. Maka dalam kasus yang dialami Ayub kita memahami bahwa dalam pergumulan yang berat kadang Allah terlihat seperti "senyap" dan tidak langsung bertindak mengubah keadaan seperti yang diharapkan kebanyakan orang. Dalam kondisi seperti ini masihkah kita percaya kepada Tuhan? Ayub tetap menyandarkan hidupnya pada Tuhan. Dan dia tidak berpaling daripadanya. Ia tidak memaksa dan kecewa kepada Tuhan. Disini kita temuan kesejatian iman seorang Ayub ketika badai hebat itu menimpanya, ia tetap berdiri kokoh dan tampil sebagai pahlawan yang sejati. Meski babak belur dalam pertempuran iman, ia tidak akan pernah mundur meski harus mati. Meskipun demikian Ayub tidak pernah menepis tentang kegentarannya, ia tetap bisa mengalami kegelisahan yang ada. Dan ia juga tidak menghabiskan energinya untuk menyalahkan Tuhan dan orang disekitarnya. Ia hanya menyalahkan tentang hari kelahiran yang harusnya menjadi hari-hari yang berujung pada kebagiaan namun ternyata berada dalam kepahitan yang menakutkan. Apakah dengan mengatakan hal itu ia berdosa? Tentu saja tidak. Seseorang berharap bahagia tidak salah namun kalau hal pahit menimpa maka ia harus belajar terus berserah dan berharap kepada Tuhan. Ayub tidak hanya menerima hal yang baik-baik saja namun ia belajar untuk menerima hal yang "buruk" dari Allah. Bukankah terkadang pemurnian dari iman yang sejati adalah pergumulan yang besar? |
Menjadi suatu proyek yang sangat penting bagi orang Kristen untuk melakukan dan mengalami pembaharuan budi di dalam dirinya sebagai orang yang percaya kepada Kristus sehingga terus bertumbuh dan dibagun di atas dia dengan kokoh. Roma 12:2, menegaskan bahwa kita hidup, "Jangan menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." Suatu kali ada seorang anak laki-laki berusaha untuk membuka kuncup bunga. Dengan sangat hati-hati ia memegang bunga itu, tetapi akhirnya kelopak-kelopak bunga itu malah hancur di tangannya. Dengan merasa sangat jengkel, ia memandang ibunya dan bertanya, "Mengapa kuncup bunga ini hancur ketika aku mencoba untuk membukanya?" Terkejut oleh kedalaman pertanyaan anaknya, sang ibu menjadi terdiam. Kemudian anak laki-laki itu berseru "Oh, saya tahu! Waktu Allah membuka bunga ini, ia membukanya da...
Komentar
Posting Komentar