Berfirmanlah
Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut
gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas
ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan
atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut
gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya
mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka:
"Beranakcuculah dan bertambah banyak ; penuhilah
bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung
di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. "
Kejadian 1:26,27
Atau
tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian
dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul,
penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri,
orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam
Kerajaan Allah. 1 Korintus 6:9-10.
Pengakuan
terhadap LGBT yaitu "lesbian, gay, biseksual, dan transgender"
menyentak dunia internasional, disatu sisi membuat berbagai kalangan yang pro
bergembira pasalnya pada Jumat 26 Juni 2015, LGBT dan Pernikahan sejenis kini sudah
dilegalkan di 50 negara bagian Amerika Serikat oleh Makamah Agung AS,
“Pengadilan yang sekarang menyatakan pernikahan sesama jenis memiliki hak untuk
dilaksanakan. Kebebasan ini tak akan dihalangi lagi untuk mereka,” demikian
papar Anthony Kennedy, Hakim Mahkamah Agung AS. Keputusan legalitas pernikahan
sejenis didapat dari hasil sidang yang beda tipis 5 berbanding 4. Didapati lima
orang hakim bersifat liberal mendukung keputusan legalitas pernikahan sejenis.
Kelima hakim tersebut diantaranya Anthony M. Kennedy, Sonia Sotomayor, Elena
Kagan, Bader Ginsburg, dan Stephen G. Breyer. Sementara empat orang hakim
lainnya bersifat konservatif memiliki pendapat berbeda. Keemat hakim yang
menolak legalitas pernikahan sesama jenis yaitu Antoni Scalia, John G. Robert,
Samuel A. Alito Jr, dan Clarence Thomas. Alhasil pernikahan sesama jenis untuk
kaum LGBT diijinkan di seluruh negara bagian Amerika Serikat.
Pernikahan yang awal mulanya
dirancang oleh Allah hanya bagi pria dan wanita tampaknya telah dirubah oleh
manusia dengan membuat hukum bagi
dirinya sendiri berdasarkan keinginan dan kemauan yang sesuai dengan selera. Seakan semakin tuanya jaman, semakin pudar
juga kebenaran firman Tuhan itu. Manusia telah berani menggesar dan menolak
ketetapan yang ditentukan oleh Allah sejak semula. Menikah tentunya bukan hanya
didasarkan pada cinta, pengorbanan, dedikasi, dan keluarga, seperti yang
diungkapkan Kennedy, “Tak ada proses
penyatuan yang lebih baik dibandingkan dengan pernikahan. hal tersebut terdapat
dalam kesamaan mengenai cinta, pengorbanan, dedikasi, dan keluarga, dalam
penyatuan pernikahan kedua insan berubah menjadi lebih baik ketika mereka
bersama bahkan hingga ajal tiba. Mereka saling menghormati satu sama lain.
Karenanya mereka mesti dipersatukan dengan peraturan yang dibuat.” Namun
Pernikahan harus sejalan dengan kehendak Tuhan. Manusia yang menikah menerima
berkat Tuhan untuk "Beranakcuculah dan bertambah banyak ;
penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan
burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. "
Dalam hal ini tentu kita harus pahami bahwa di dalam pernikahan Allah harus
menjadi Pribadi yang dimuliakan di dalam keluarga dan mereka yang menjalaninya
harus mengalami perkenanan-Nya dalam bentuk berkat itu. Selanjutnya, manusia dimandatkan untuk
beranak cucu atau menghasilkan keturunan, meski pun tidak semua orang bisa dan
akan mendapatkan keturunan namun dalam hal ini Allah tentu punya maksud mengapa
mempersatukan lawan jenis di dalam ikatan pernikahan. Hanya menikah dengan lawan jenislah manusia
dimungkinkan untuk menghasilkan keturunan seperti yang Ia kehendaki. Pernikahan itu bukan hanya dijalankan
berdasarkan cinta semata tetapi bagaimana manusia menjalankan hidupnya seturut
kehendak-Nya, menghormati Dia dan memuliakan nama-Nya. Itu sebab Allah membinasakan Sodom dan Gomora
karena memang hubungan antara sesama jenis adalah merupakan suatu kekejian di
hadapan Tuhan dan Ia tidak berkenan. Tidak
ada dukungan firman Tuhan untuk hubungan sesama jenis. Di dalam suratnya kepada jemaat Korintus
Paulus memberikan suatu penegasan yang amat sangat bahwa Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang
berzinah, banci, orang pemburit,… tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan
Allah. Sangat serius Alkitab
melakukan penolakan terhadap hal itu.
Bahkan bagi mereka tak ada tempat di dalam kerajaan Allah. Allah telah menetapkan sejak semula laki-laki
dan perempuan bersatu menjadi satu daging dengan kata lain sebenarnya tidak ada
seorangpun boleh merasa bahwa mereka sedang ‘terjebak’ dalam jenis dan rasa,
baik sebagai laki-laki atau perempuan sebab Allah tidak pernah salah dalam
menciptakan seseorang. Masakan Tuhan
menciptakan laki-laki dengan emosi dan jenis seorang wanita terjebak didalam
dirinya, demikian sebaliknya. Bila
manusia merasa demikian, maka manusia telah melakukan penghinaan kepada sang
pencipta itu. Sebab seakan penciptalah
yang telah salah dalam menciptakan dirinya dalam keadaan demikian. Bukankah Allah telah menciptakan segala
sesuatu dalam keadaan normal dan semuanya sangat amat baik. Tak ada yang salah Ia kerjakan, masakan
manusia “memfitnah” Dia yang telah menciptkannya.
Ada yang berkata menikah
dengan sesama jenis lebih harmonis.
Apakah betul demikian? Tidak ada data yang akurat untuk bisa
membuktikannya. Dan mereka yang menikah
dengan beda jenis justru banyak yang harmonis dan awet sampai maut memisahkan. Mencintai sesama jenis hanya merupakan
pemuasan nafsu diri dan menunjukkan bahwa manusia telah mengalami kerusakan
moral dan jatuh begitu dalam dan tak memahami sejarahnya kehidupan yang
sebenarnya. Pengakuan yang terlalu berlebihan akan keinginan dan selera manusia
menjadikan kehidupan manusia semakin bengkok dan melawan kebenaran firman
Tuhan. Dalih bahwa mereka saling cinta itu merupakan pengalihan dan pembenaran
diri yang tak beralasan. Yang pasti
manusia yang demikian telah sesat, hanya perlu kembali kepada kebenaran firman
Tuhan. Mereka merasa bahwa apa yang
mereka lakukan benar dan berdasar namun firman Tuhan mengatakan bahwa mereka
telah sesat, bengkok dan menyimpang. Itu
sebab diperlukan pertobatan dan kembali kepada Tuhan, bukan pengakuan. Hanya
orang gila dan tak tahu kebenaranlah yang mengakui penyelewengan kebenaran itu. Nilai kebenaran tak boleh ditukar, dikurang,
direndahkan dan dikompromikan dengan ketidakbenaran. Masakan mata hati kita menjadi buta? Di dalam menulis bagian ini terus terang saya
merasa gelisah dan gentar karena memang peperangan kita sekarang bukan dengan
senjata dan fisik tetapi peperangan kita melawan konsep pemikiran manusia yang
menentang Tuhan. Manusia yang telah kebal
terhadap kehidupan di dalam kegelapan.
Lorong ini memang lorong gelap dan menakutkan, namun kita harus berani
masuk ke dalamnya dan memperbaiki konsep-konsep yang telah rusak itu. Tak penting banyak orang yang menentang, dan
tak penting berjalan tanpa kawan yang penting berjalan pada kebenaran agar
muncul kehidupan yang memuliakan Tuhan.
Mungkin ada yang sakithati membaca tulisan ini, bagi saya tak mengapa
karena memang saya tidak menjadi seorang penulis dan hamba Tuhan yang
terpanggil untuk setuju denga ketidakbenaran.
Saya terpanggil untuk mengikuti jalan Tuhan dan menyatakan kebenaran-Nya
kepada dunia. Yang membuat saya geleng-geleng
kepala adalah ternyata yang menikahkan mereka, yaitu pastor-pastor yang telah
mati rohani dan tak pernah mau belajar kebenaran lebih dalam. Apakah mereka melayani karena pimpinan Tuhan?
Ini tentu menjadi sebuah pertanyaan.
Namun janganlah ikuti pastor yang demikian karena bagi saya mereka tak
lebih dari dari nabi-nabi palsu yang hanya berprofesi pendeta namun tak
menghambakan diri pada-Nya. Mereka hanya “penjaja” kebenaran. Karena itu,
bijak-bijaklah belajar kebenaran agar tak disesatkan oleh kelakuan mereka yang
berjubahkan baju kependetaan namun kelakuan mereka telah jauh menyimpang. Bila anda ingin tahu hamba Tuhan yang benar
maka lihatlah apakah khotbahnya sesuai dengan kelakuannya?,bila keduanya tak
harmonis tetapi bertolak belakang maka segeralah sadar dan berhenti
mendengarkannya dan mengikutinya. Mereka
yang berbicara hebat tetapi berkelakuan penjahat tak layak untuk diikuti. Logika kita tentu tak paham, kok ada yang
menyatakan diri pendeta tetapi justru melayani keinginan dunia, harusnya
keinginan Allah yang dilayaninya. Doa saya akhirnya, kebenaran memancar secara terang di dalam kegelapan dan mengalirkan
aliran sungai yang mendatangkan kepuasaan sejati agar bumi penuh dengan
kemuliaan-Nya seperti air menutupi lautan.
Komentar
Posting Komentar