Langsung ke konten utama

Sukacita dalam Melayani



Dalam 1 Tesalonika 2:13-20, Paulus menjelaskan kepada Jemaat yang pernah dilayaninya bahwa ia sangat bersyukur ketika melihat mereka telah menerima firman Allah yang diberitakan itu.  Dan firman itu ternyata bukan hanya mereka terima tetapi bekerja di dalam hidup mereka, sehingga mereka menjadi penurut-penurut Jemaat Allah dan ikut terlibat menderita sebagai pengikut Kristus yang setia akibat perlakuan orang-orang Yahudi yang tidak percaya. Namun inilah warna kehidupan sebagai orang percaya mereka bukan hanya perlu percaya namun juga perlu menyangkal diri dan mememikul salib dan ikut Yesus dengan setia. Banyak orang mengajarkan bahwa ikut Yesus pasti ini dan pasti itu, tak mengalami kesusahaan dan selalu diberkati.  Dan tampaknya ajaran yang demikian tak sejalan dengan kehidupan yang di alami Jemaat Tesalonika.  Bagi mereka iman Kristen tampaknya tidak membawa damai dan berkat, yang ada hanyalah kesusahan dan penderitaan namun mereka sadar bahwa dalam situasi yang demikian, “Tuhan seakan menempatkan diri mereka dijalan yang harus ditempuh sebagai orang kudus.” Penganiayaan yang mereka alami sebetulnya sebagai suatu tanda kehormatan yang memberi mereka tempat sejajar dengan pasukan khusus Kristus. Ketika para nabi di bunuh, para rasul di bunuh dan pengikut Kristus di bunuh maka sebetulnya yang dibunuh adalah pembawa berita itu tetapi berita itu sendiri tidak ada yang bisa membunuhnya. Kristus mereka bunuh dan seakan mereka bisa menghambat berita Injil itu namun mereka salah karena Sang berita itu terus bergerak, bekerja dan menggelisahkan hati tiap-tiap orang dan tidak ada yang bisa menghambatnya sehingga di tiap-tiap jaman dan tempat masing-masing orang membuka hatinya untuk Tuhan.  Dan sejarah membukti bahwa semakin jemaat dianiaya maka disanalah tumbuh kekristenan yang semakin merambat dan kuat.

Karena itu, maka Paulus sebagai seorang hamba Tuhan merasa bahwa ada suatu sukacita yang luar biasa yang meluap dari hatinya, karena Jemaat yang dilayani sebagai suatu pengharapan dan mahkota kemegahannya. Mengapa demikian, sebab jemaat yang kuat dan jemaat yang rela menderita bagi Kristus itulah pengharapan dari kekristenan. Terlalu mudah untuk melihat Jemaat dalam suatu jumlah yang besar namun tidak mudah menemukan Jemaat yang teguh dan tangguh berdiri di dalam imannya kepada Tuhan walaupun dalam kondisi yang tak menyenangkan. Kita terlalu sering menemukan Jemaat yang cenggeng dan terlalu mudah bergeser dari imannya hanya karena kekasih atau karena harta kekayaan serta promosi jabatan dalam suatu pekerjaan. Kristus dengan begitu mudahnya digeser dari kehidupan keimanan mereka. Padahal sebetulnya kesukaan dan kebanggan Paulus sebagai hamba Tuhan adalah ketika melihat Jemaatnya kuat dan beriman sungguh serta terus setia meski didera dengan berbagai derita. Bukan karena ia tenar, mendapat banyak pujian atau memiliki harta berlimpah namun karena mereka merasakan seolah-olah ketika melihat Jemaat hidupnya benar, bertumbuh dalam Kristus dan hidup dalam Firman Tuhan itulah kemuliaannya. Sukacita, mahkota kemegahan dan kemuliaan yang dapat menjadi suatu kebangaan di hadapan Kristus pada waktu Ia datang. Dengan kata lain Paulus ingin menunjukkan bahwa kemuliaan dia sebagai pemberita Injil adalah terletak di dalam diri mereka yang telah menerima Injil itu dan membawa mereka berjumpa dengan Kristus sebagai Sang Juruselamat. Mereka bukan hanya dihantarkan pada Kristus tetapi mereka membuatnya bersukacita karena hidup yang mereka tunjukkan sungguh suatu hal yang membanggakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melayani sesuai dengan Karunia

Jika karunia untuk melayani , baiklah kita melayani ; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasehati, baiklah kita menasehati. Roma 12:7,8 Karunia adalah suatu anugerah khusus yang diberikan oleh Allah kepada para pengikut Kristus untuk membangun Jemaat-Nya sehingga mereka boleh menikmati kehidupan yang penuh sukacita, damai sejahtera, serta dapat melakukan peribadatan yang benar kepada Allah dan dapat bertumbuh melaluinya. Di dalam 1 Korintus 12, kita dapat menemukan macam-macam karunia yang Tuhan anugerahkan kepada orang percaya.  Karunia bukanlah menjadi ajang untuk pertunjukan atau ajang pamer kemampuan rohani, tetapi menjadi kesempatan untuk orang percaya memberitakan tentang kemurahan Allah dan kasih-Nya kepada sesama orang percaya dan kepada mereka yang belum percaya. Kita sadar bahwa masing-masing orang memiliki karunia yang berbeda-beda, karena itu sangatlah baik kalau perbedaan karunia menjadi kesempatan untuk saling memperlangkap...

Kalkulasi Untung Rugi

Disetiap dimensi kehidupan setiap orang sering berhitung tentang untung atau rugi. Bila untung dijalani dan bila rugi maka berhenti. Tak ada orang yang rela rugi semua orang ingin untung. Untung dianggap rejeki sementara rugi dianggap buntung. Nilai materi menjadi takaran di sana. Setidaknya kuantitas menjadi bertambah dari sebelumnya. Memang betul di dalam dunia usaha semuanya itu berlaku dan harus terjadi. Namun bagaimana dengan dunia sosial? Yang memang tidak ada yang dijual agar orang membelinya dan agar dia mendapat untung. Menariknya untung rugi pun menjadi takaran yang harus terjadi di sana. Dunia religi pun tak mau kalah. Dari agama yang kita anggap tidak benar sampai kepada agama yang kita anut sekalipun untung rugi tetap menjadi penentu. Siapa yang untung dan siapa yang rugi menjadi tak jelas. setiap orang datang kepada Tuhan ingin sesuatu yang menguntungkan, dengar saja perkataannya saat pulang dari gereja, "aku tadi gak dapat apa-apa"...

Anak Panah di Tangan Pahlawan

Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan,  demikianlah anak-anak pada masa muda. Mazmur 127:4 Pada hari ini saya membaca sebuah buku yang sangat bagus yang berjudul, Pelajaran dari Ayah ditulis dan dikumpulkan oleh Joan Aho Ryan.  Pada halaman 27 dia mengutip kata-kata Will Rogers Jr., yang berbunyi " Warisan kepada anak-anaknya bukan kata-kata atau harta milik, tetapi harta karun yang tak terucapkan, harta karun teladannya sebagai seorang pria dan seorang ayah.  Lebih dari apa pun yang kumiliki, aku berusaha mewariskan itu kepada anak-anakku."     Pahlawan yang sudah mahir memanah tidak akan pernah salah membidik sasarannya.  Anak panah adalah andalan bagi seorang pahlawan. Seorang pahlawan tidak pernah salah memperlakukan anak panah yang dia punyai, ia akan menaruhnya dalam tabung panah dengan baik dan mempergunakannya tepat pada waktunya.  Berbicara tentang anak, bukan hanya berbicara tentang pribadi yang lucu saat ia di...